Selamat Datang Pada Web Dr. Priyono, MM yang merupakan terobosan baru untuk kelanjaran dan keberlangsungan sebuah proses pembelajaran bagi Mahasiswa UNIPA Surabaya…!!!! Priyono is The Best Lecturers

Sabtu, 10 Maret 2012

Etos Kerja....!!!


Mentari pagi nampak malu - malu memancarkan senyumnya. Embun pagi yang sejak subuh menyapa tak memberikan arti apa - apa, hari itu memang mendung, angin pagi sudah mulai bercanda mencubit - cubit kulitku yang sawo matang, tak terasa hari benar - benar tak bersahabat, langit pun mulai tak rela melepas diriku melangkah tuk beraktivitas dengan meneteskan air hujan.....namun, ku tetap semangat, tetap seirus, total dan optimis menggapai pagi meretas aktivitas sampai larut sore.....
Naik bus tiap pagi merupakan aktivitas yang terkadang membosankan....Duduk, mendengarkan berisik suara dan kondektur, kadang juga lagu dangdut dari pengamen jalanan, sampai di tempat tujuan dan turun. Tapi, naik bus sebenarnya dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan jika pas naik ada yang ngamen lagu campursari (ngarep buanget). Kebetulan, pagi ini saya bersantai naik bus. Di sepanjang jalan deretan trotoar Jalan Rondho Kempling, Kota Campursari saya terpana dengan aktivitas yang beraneka macam rupa...
Pertama, bapak - bapak penarik becak berbaris rapi sambil bengong menunggu penumpang datang dan bergantian menutup mulut karena mengantuk. Kedua, seorang ibu yang tengah bengong menunggu masakan sayurnya yang serba bersambel (maklum sepi, kebetulan hari masih gerimis). Ketiga, seorang nenek - nenek tujuh puluhan tahun tengah sibuk menggelar tikar dan dagangan pakaian - pakaian bekasnya yang sudah kusam, Keempat, di sebelahnya seorang tukang sol sepatu tengah bengong menghadapi sepatu - sepatu bekas yang sudah tak layak pakai lagi. Kelima, dua orang lelaki yang masih tampak gagah mojok main catur. keenam, di sebelahnya saya duduk seorang ibu setengah baya yang saya tahu biasa mengemis di daerah Pasar Buduran tengah siap - siap berangkat mengemis mengharap iba dan belas kasihan. Nah, yang ke tujuh di lampu merah jam delapan pagi itu segerombolan anak - anak jalanan tengah asyik bergoyang dengan musik ala kadarnya.....
Apa yang terpikir di benak Anda? setidaknya ada satu hal kemungkinan besar, mereka semua orang2 yang sibuk dengan aktivitas masing - masing......Menceramati aktivitas yang benar (kasus kesatu sampai keempat) pasti akan membawa nilai rasa yang positif. Mungkin muncul sedikit semangat untuk membalas kerja keras mereka atau mungkin anda yang sudah berpenghasilan anda terbesit niat untuk mempersembahkan sebuah bingkisan kecil sekedar membuat mereka seanag.
Tapi saya yakin, akan muncul sebongkah rasa geram meyaksikan bapak yang masih gagah tadi asyik bermain catur. Padahal, bisa jadi mereka berpemit kepada anak istri dengan baik dan muncul juga pengharapan yang baik bagi keluarganya. Pulang bawa pedang buat sidang bukan pulang bawa uang buant senang.
Pada kasus yang lain, seorang ibu bersiap - siap berangkat ke medang perang dengan tangan dan ekspresi memelasnya. Sering mereka beralasan, nggak ada kerjaan lain atau daripada nganggurlah. Saya merasa berbaik sangka, mungkin alternatif terakhir selain juga karena profesi yang ini enak dan cukup menggiurkan, cuma butuh satu modal, muka tembok...hehehehe
Kasus anak - anak jalanan. Salah Siapa? bukan salahnya rumput yang bergoyang juga bukan salahnya cicak yang asyik merayap - rayap di dinding.....
Semua fenomena yang terurai di atas sebenarnya merupakan realisasi bertebarannya manusia di muka bumi ini.....dan semuanya bermuara pada satu kunci yaitu Bekerja...bekerja....
Nah, beberapa hari setelah kejadian pagi itu, saya bertemu dengan lelaki muda berjeans rapi ngamen di tempat penjual warung kopi yang saya datangi. Saya heran, pemuda seganteng ini, eh segagah ini kok ngamen. Sedih rasanya melihatnya. Suaranya saja kayak halilintar. Dari rumah ujung jalan kita sudah biasa menikmati suaranya. Lagunya sama lagi Rondo Kempling. anehnya habis nyanyi lagu kebesarannya "Rondo Kempling", lelaki itu tertawa terbahak - bahak. Semua perhatian tertuju padanya. Setelah kami sadar, gantian kami yang tertawa terbahak - bahak. Ternyata ia orang gila alias wong edan.
Masya Alloh, orang gila saja mau bekerja kayak gini, apalagi kalau waras? Pasti Hebooohhhh....hahahaha

Jumat, 24 Februari 2012

Yang Datang Untuk Pulang

Sebuah catatan kenangan bersama Ayah tercinta yang selalu menyisakan derai air mata dan sesegukan karena isak tangis mengiringinya....!!!

Sebait doa dan sebaris lantunan ayat2 suci dengan sedikit derai air mata haru biru memecah kesunyian jiwaku ini...
Saudaraku yang baik dan berhati mulia seperti mutiara. Siapa bisa memaksa Tuhan atau mendikte-Nya dalam merumuskan keputusan dan alur hidup hamba-Nya? Tiada seorang pun, bahkan juga Rasullullah Muhammad SAW. Dia Maha Berkehendak dan Maha Pandai menyusun skenario hidup hamba-Nya. Lahirnya, rezekinya, jodohnya, juga matinya

Siapa juga mengelak dari skenario hidup yang telah ditetapkan-Nya untuk hamba-Nya? jeritan tangis yang menyayat dengan derai - derai air mata yang tak terbendung, kata - kata yang mendetak dan mengharukan, juga rangkaian doa - doa yang panjang tak mampu juga menggeser skenario itu. Seperti doa dan air mata Rasullullah SAW tak mampu juga menggeser jalan hidup paman terkasihnya - Abu Thalib- yang tetap berada pada jalan kekafiran.

Kamis, 23 Februari 2012

Penelitian Kualitatif

"PENGERTIAN PENELITIAN KUALITATIF"

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan pendekatan induktif, atau lebih jelasnya penelitian Kualitatif ialah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta dikapangan dan juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.

SUMBER:

http://id.wikipedia.org/wiki/penelitian_kualitatif
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2103467-pengertian-penelitian-kualitatif/


Rabu, 22 Februari 2012

Terbanglah Lebih Tinggi...!!!


Mentari pagi terus tersenyum melihat segerombolan anak ayam berlarian, bercanda dan saling berbagi tawa. Sesekali seekor bebek tersenyum melihat canda sang ayam dan burung gelatik yang asik bersiul menendangkan lagu kemesraan menyambut mentari pagi. Dipersimpangan jalan sudah berkumpul bocah - bocah yang siap menyapa embun pagi dengan ditemani cangkul dan ceret untuk melepas haus yang meyerang kerongkongan. Benar - benar sejuk suasana desa, suasana yang selalu menyuguhkan panorama keindahan dengan aroma wewangian. Langgam jawa "campursari" pun tak ketinggalan ikut mengiringi mentari pagi beranjak dari peraduannya.

Senin, 20 Februari 2012

Pengaruh Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih mungkin seringkali Kita dengar atau ucapkan, namun sadarkah pengaruh dari ucapan tersebut pada diri Kita dan yang menerimanya ?

Penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science melihat efek ucapan terima kasih terhadap kekuatan komunal, tingkat tanggung jawab yang dirasakan seorang teman atau pasangan kepada yang lain. Sedang penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa ucapan terima kasih menguatkan hubungan dengan meningkatkan kepuasan.

Hasil riset menunjukan, mengucapkan terima kasih, tak hanya membantu orang yang menerima ucapan itu, namun juga yang mengucapkannya. Ucapan itu juga mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dalam bersikap saat menjalani sebuah hubungan sosial. Ekpresi wajah saat mengucapkan terima kasih menggambarkan Anda menjadi seorang yang bertanggung jawab terhadap orang-orang disekitar Anda.

Meski riset terdahulu menyimpulkan ekspresi saat mengucapkan terima kasih menghadirkan kepuasan dalam sebuah hubungan sosial, riset paling anyar yang dipublikasi secara online dalam psychological Science mencatat, ekspresi saat mengucapkan terima kasih tidak hanya menghadirkan kepuasan dalam sebuah hubungan melainkan kekuatan komunal di dalamnya, sebuah tingkatan tanggung jawab yang mencakup orang-orang di sekitar dan lingkungan.

Pemimpin riset, Nathaniel Lambert dari Florida State University, Tallahassee menyatakan hasil riset begitu logis. “Ketika Anda mengekspresikan ucapan terimakasih, Anda terfokus pada hal baik yang telah dilakukan untuk Anda. Hal ini membuat Anda berpikir positif dan membantu Anda untuk fokus pada jalan yang benar,” katanya kepada Healthday, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, Lambert dan kolega meriset ulang melalui tiga riset berbeda tentang mengekspresikan ucapan terima kasih membantu seseorang memperkuat hubungannya dengan orang lain.

Di riset pertama, 137 mahasiswa mengikuti rangkaian survey bagaimana mereka mengekpresikan terima kasih kepada teman atau kerabatnya. Hasil survey menunjukan, ucapan terima kasih berhubungan dengan persepsi seorang yang begitu kental dengan ikatan komunalnya.

Pada riset kedua, 218 mahasiswa yang ditanyai melalui sebuah survei mengaku mengalami perubahan persespsi saat berinteraksi sosial dengan orang-orang terdekat dan lingkungan sekitarnya.

Memasuki riset ketiga, Lambert dan kolega melibatkan 75 laki-laki dan perempuan yang kemudian secara acak diharuskan memilih satu dari empat kelompok yang ada dan mengikuti aktivitas kelompok yang dipilih lebih dari tiga minggu.

Kelompok pertama diharuskan mengucapkan terima kasih kepada teman. Kemudian di kelompok kedua, individu harus bercerita tentang teman-teman mereka. Kelompok ketiga, bercerita tentang aktivitas keseharian dan kelompok keempat berbicara tentang sisi positif berinteraksi dengan teman.

Dari empat kelompok tadi, kelompok pertama cenderung menghargai sebuah bentuk hubungan sosial ketimbang kelompok lain. “ Seseorang yang mengucapkan terima kasih begitu terbuka pada hubungan sosial, lebih komunal, mau berkorban dan membantu individu lain,” kata Lambert.

Ia juga melihat individu yang gemar mengucapkan terima kasih nantinya mengharapkan individu lain juga melakukan hal serupa. “Dalam hubungan kemasyarakatan sekarang ini, sebagian individu tidak melihat apa yang dilakukan untuk mereka. Itu hanyalah krikil kecil tentang ucapan terima kasih. Hal itu berpotensi merubaharah peluru negatif menuju kepada pandangan positif di sebuah hubungan,” katanya.

Secara terpisah, Pakar Psikolog dari University of Califormia Davis, Robert Emmons dalam bukunya berjudul
Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier menyatakan ucapan terimakasih dapat merajut dan mengikat orang-orang ke dalam hubungan timbal balik. “Tantangan terbesar riset adalah laki-laki lebih sulit mengucapkan terima kasih,” singkatnya.

“Ketika seseorang tidak merasakannya, riset secara kuat menunjukan mengucapkan terima kasih akan membimbing individu paa keterikatan secara emosi,” tuturnya.

Nah sudahkah Anda membiasakan mengucapkan terima kasih kepada rekan, keluarga atau konsumen Anda ?

Istilah Sekolah Gratis Dinilai Kurang Tepat

Medan (ANTARA) - Penggunaan istilah sekolah gratis yang dewasa ini populer di tengah-tengah masyarakat sebenarnya kurang tepat, ujar staf khusus Kementerian Pendidikan Nasional Bidang Komunikasi dan Media, Dr Sukemi. "Lebih tepat disebut sekolah bersubsidi, dimana salah satu misi Kemendiknas 2010-2014 adalah meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan, meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan, serta meningkatkan kualitas mutu dan relevansi pendidikan," katanya di Medan, Senin.
Menurut dia, pemerintah sebenarnya menginginkan sekolah yang ada bisa terjangkau. "Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan, jadi kami akan terus berusaha mewujudkan sekolah dengan biaya yang terjangkau, sehingga pendidikan bisa terus berjalan dengan baik," katanya.
Berbicara pada "Dialog Publik Pendidikan dan Tenaga Kependidikan" yang merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) IX di Medan, ia mengatakan, paradigma pendidikan sekarang ini adalah mencoba menggeser wajib belajar menjadi hak belajar.
Ini dilakukan karena pemerintah menginginkan semua warga negara Indonesia bisa mendapatkan hak belajarnya paling tidak sampai tingkat SMP.
"Tentunya dengan sekolah terjangkau dan wajib belajar 9 tahun yang selama ini diprogramkan," katanya.
Dalam kesempatan itu ia juga menjelaskan, dewasa ini muncul anggapan yang salah di tengah-tengah masyarakat yang menyebutkan bahwa bahwa sekolah negeri bukan lagi sebagai sekolah publik.
Anggapan itu, menurut dia, tidaklah benar dan untuk itu pihaknya ingin memberikan pemahaman bahwa sekolah negeri itu tetap sekolah publik.
"Kalau sekarang ada sekolah negeri pada waktu sore hari tidak ada kegiatan, maka sebagai sekolah publik sekolah negeri bisa dijadikan sebagai tempat kegiatan pendidikan nonformal lainnya," katanya.

Pertemuan kuliah berkutnya mata kuliah MSDM II

Human resource planning or man power planning has been defined as the process of determining man power requirement and the means for meeting those requirement in order to carry out the integrated plans of the organization. (Andrew F. Sikula dalam bukunya Personnel Administration and Human Resources Management)
(Perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan tenaga kerja didefinisikan sebagai proses menentukan kebutuhan akan tenaga kerja dan cara memenuhi kebutuhan tersebut untuk melaksanakan rencana terpadu organisasi).
Human resource planning is the process offorecastingfuture human resource needs of an organization so that steps can be taken to ensure that these needs are met. (Thomas H. Stone dalam bukunya Understanding Personnel Management)
(Perencanaan sumber daya manusia adalah proses meramalkan kebutuhan akan sumber daya manusia dari suatu organisasi untuk waktu yang akan datang agar langkah-langkah dapat diambil untuk menjamin bahwa kebutuhan ini dapat di­penuhi).
Human resource planning may be described as a process that seeks to ensure that the right number and kinds of people will he at the right place at the right time in the future, capable of doing those things that are needs so that the organi­zation can continue to achieve its goals. (John B. Miner dan Mary Green Miner dalam bukunya Personnel and Industrial Relation)
(Perencanaan sumber daya manusia dapat diuraikan sebagai suatu proses yang berusaha menjamin jumlah dan jenis pegawai yang tepat akan tersedia pada tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk waktu yang akan datang, mampu melaku­kan hal-hal yang diperlukan agar organisasi dapat terus mencapai tujuannya).

Bab II

disajikan beberapa 
materi sebagai beiikut :
  1. BEBERAPA PENDAPAT TENTANG BUDAYA ORGANISASI.
  2. BUDAYA ORGANISASI YANG KUAT DAN YANG LEMAH.
  3. BUDAYA DOMINAN DAN SUB BUDAYA
  4. PENDAPAT-PENDAPAT MENGENAI PENELITIAN.
 
1.      BEBERAPA PENDAPAT TENTANG BUDAYA ORGANISASI.
Merupakan mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.
Budaya organisasi dapat membantu karyawan sebagai anggota organisasi untuk memberikan batasan-batasan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi. Budaya organisasi membantu anggota organisasi dalam mengkonsep, menjelaskan, menganalisis, serta menyusun pemecahan masalah-masalah organisasi yang mereka hadapi.
Budaya organisasi memberikan kontribusi kepada kesuksesan organisasi melalui kemampuannya dalam memberikan rasa aman kepada anggotanya serta menjadi sumber penting bagi stabilitas dan kontinuitas organisasi. Budaya organisasi mampu memberikan identitas bagi anggota organisasi, bahkan dapat menjadi pendorong semangat anggota organisasi untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaannya. Davis dan Newstrom (1993:58-59) menyatakan budaya organisasi juga dapat memberikan gambaran suasana atau keadaan yang terlihat sulit atau membingungkan bagi anggota-anggota baru organisasi. Artinya budaya organisasi dapat memberikan gambaran tentang suasana/situasi/kondisi
dipahami oleh para anggota-anggota organisasi yang masih baru.
Susanto (1997:19-20) menerangkan manfaat yang dapat diperoleh bila budaya organisasi dipahami oleh seluruh lapisan sumberdaya manusia yang ada didalam organisasi yang meliputi manfaat bagi sumberdaya manusia maupun bagi organisasi. Artinya budaya organisasi berguna, baik bagi individu sebagai anggota organisasi maupun organisasi itu sendiri dalam pencapaian tujuannya.
Manfaat budaya organisasi bagi sumberdaya manusia adalah (Susanto,1997 :19) :
1.      Memberikan arah atau pedoman berperilaku didalam organisasi. Dalam hal ini sumberdaya manusia tidak dapat semena-mena bertindak atau berperilaku sekehendak hati, melainkan harus menyesuaikan diri dengan siapa dan dimana mereka berada.
2.      Mempunyai kesamaan langkah dan visi didalam melakukan tugas dan tanggung jawab, masing-masing individu dapat meningkatkan fungsinya dan mengembangkan tingkat interdependensi antar individu atau bagian karena antar individu atau bagian yang lain saling melengkapi dalam kegiatan usaha perusahaan.
3.      Mendorong sumberdaya manusia selalu mencapai prestasi kerja atau produktivitas yang lebih baik. Hal ini dapat dicapai apabila proses sosialisasi dapat dijalankan dengan tepat kepada sasarannya.
4.      Mengetahui secara pasti tentang karirnya di organisasi sehingga mendorong mereka untuk konsisten dengan tugas dan tanggung jawab.
Manfaat budaya organisasi bagi perusahaan adalah (Susanto, 1997:20) :
1.      Sebagai salah satu unsur yang dapat menekan tingkat perpindahan karyawan. Ini dapat dicapai karena perusahaan mendorong sumberdaya manusia memutuskan untuk tetap berkembang bersama perusahaan.
2.      Sebagai pedoman didalam menentukan kebijakan yang berkenaan dengan ruang lingkup kegiatan internal perusahaan seperti tata tertib administrasi, hubungan antara bagian, penghargaan prestasi sumber daya manusia, penilaian kerja dan lain-lain.
3.      Untuk menunjukkan pada pihak eksternal perusahaan tentang keberadaan perusahaan dari ciri khas yang dimiliki, ditengah-tengah perusahaan yang ada di masyarakat.
4.      Sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan perusahaan (corporate planning) yang meliputi pembentukan perencanaan pemasaran (marketing planning), penentuan segmentasi pasar yang akan dikuasai dan penentuan posisi (positioning) perusahaan yang akan dikuasai.
5.      Dapat membuat program-program pengembangan usaha dan pengembangan sumberdaya manusia dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran sumberdaya manusia yang ada.
Baik Susanto (1997:16-17) maupun Schein (1992:9) sepakat bahwa memahami dan mengelola budaya organisasi tidak hanya ditujukan untuk mencari penjelasan tentang fenomena keberhasilan organisasi, melainkan juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan organisasi menjadi lebih efektif. Artinya budaya organisasi merupakan sebuah pernyataan tujuan manajemen dalam mencoba untuk mempertajam perilaku anggotanya, sehingga mereka akan lebih memegang komitmen terhadap tujuan organisasi.
2.      PENGARUH BUDAYA ORGANISASI YANG KUAT DAN BUDAYA ORGANISASI YANG LEMAH.
Setiap organisasi mempunyai budaya organisasi yang berlaku didalam organisasi tersebut, tetapi tidak semuanya membawa pengaruh yang sesuai bagi anggota organisasi.
Budaya organisasi yang kuat membawa pengaruh yang positif bagi karyawan dan organisasi, dimana anggota organisasi memegang komitmen yang lebih besar pada nilai-nilai yang ditetapkan oleh organisasi. Budaya yang kuat dicirikan oleh nilai inti dari organisasi yang dianut dengan kuat, diatur dengan baik dan dirasakan bersama secara luas. Makin banyak anggota organisasi yang menerima nilai-nilai inti, menyetujui jajaran tingkat kepentingannya dan merasa sangat terikat kepadanya, maka makin kuat budaya tersebut (Robbins, 1996:483-485). Artinya semakin karyawan menerima nilai-nilai utama perusahaan tersebut dan semakin besar keterlibatan mereka dengan nilai-nilai itu, semakin kuatlah budaya tersebut.
Sebaliknya budaya yang lemah dalam organisasi, tidak memberikan batasan-batasan yang jelas pada apa-apa yang harus dikerjakan atau batasan mana yang baik atau tidak seharusnya, sehingga pada organisasi dengan jenis budaya yang demikian ini biasanya berpengaruh dalam menghasilkan komitmen anggota organisasi yang cenderung rendah.
Sementara bagi organisasi, budaya yang kuat akan membantu efektifitas dan kinerja organisasi. Budaya yang kuat dalam organisasi akan menanamkan nilai-nilai dan doktrin organisasi lebih kuat pada anggota organisasi. Budaya yang kuat juga lebih berpotensi dibandingkan kontrol struktural formal manapun karena budaya mengontrol pikiran, jiwa dan jasmani. Makin kuat budaya suatu organisasi, makin kurang manajemen itu perlu memperhatikan pengembangan aturan dan pengaturan formal untuk memandu perilaku karyawan ketika mereka menerima budaya organisasi itu (Tunggal,2001:27). Artinya suatu budaya organisasi yang kuat akan semakin memperingan organisasi dalam melakukan pengarahan dan pengawasan terhadap individu-individu anggota organisasi tersebut.
Dalam kenyataannya, salah satu kajian budaya organisasi menemukan bahwa para karyawan di perusahaan-perusahaan yang budayanya kuat lebih terlibat dengan perusahaan mereka dari pada karyawan-karyawan di perusahaan-perusahaan yang budayanya lemah. Perusahaan-perusahaan dengan budaya kuat juga menggunakan usaha-usaha perekrutan dan praktek-praktek sosialisasi mereka untuk membina keterlibatan karyawan dan suatu kumpulan bukti yang makin banyak, mengemukakan bahwa budaya kuat berkaitan dengan komitmen yang dari komitmen itu menuntut adanya penerapan sehingga diperoleh kinerja organisasi yang tinggi (Tunggal,2001:6). Berarti budaya yang kuat akan menghasilkan komitmen yang kuat dari individu-individu anggota organisasi untuk terciptanya kinerja organisasi yang optimal.
Luthans (1995:564) menerangkan bahwa terdapat dua faktor utama yang menjelaskan kekuatan dari budaya organisasi, yaitu :
1.      Penyebaran (sharedness)
Mengacu pada pengertian derajat penyebaran nilai-nilai inti yang dianut oleh anggota organisasi. Kekuatan dari aspek ini sendiri dipengaruhi oleh dua faktor utama dalam prosesnya, yaitu orientasi dan balas jasa (reward) yang diberikan oleh pihak manajemen pada anggota organisasi dalam memahami nilai-nilai inti dari organisasi. Semakin baik orientasi dan balas jasa yang diberikan sehubungan dengan pemahaman nilai-nilai tersebut maka semakin kuat derajat penyebaran dari budaya organisasi.
2.      Intensitas (intensity)
Mengacu pada derajat komitmen dari anggota organisasi pada nilai-nilai inti. Tingkat kekuatan dari aspek ini juga dinilai dari hasil struktur balas jasa yang diberikan pada anggota organisasi.
Du Brin (1993:574) mengemukakan bahwa budaya yang kuat dalam organisasi akan membawa dampak yang berpengaruh pada perilaku karyawan. Artinya anggota dari organisasi yang memiliki budaya yang kuat akan dengan mudah mengikuti nilai-nilai yang berkembang didalam organisasi. Sebaliknya budaya yang lemah hanya akan menjadi sebuah petunjuk kerja bagi karyawan. Berikut dijelaskan konsekuensi yang dapat dicapai dari penerapan budaya yang kuat dalam organisasi.
1.      Keuntungan kompetitif dan keberhasilan financial (competitive advantage and financial success).
Penerapan budaya yang kuat dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian keunggulan kompetitif dan keunggulan finansial organisasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang bersifat partisipatif dapat mendorong anggota organisasi dalam memilki hubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas (ROI dan tingkat penjualan) secara signifikan.
2.      Produktivitas dan moral (Productivity and morale)
Aplikasi dari budaya organisasi yang kuat dalam organisasi, yaitu jenis budaya yang mampu menghargai martabat karyawan berperan dalam mengembangkan moral dan kepuasan kerja karyawan.
3.      Kecocokan orang-organisasi (Person-organization fit)
Budaya organisasi yang kuat dan sesuai, menciptakan karyawan profesional dengan tingkat komitmen dan kepuasan kerja yang lebih tinggi.
4.      Kecocokan dari penggabungan dan pengambilalihan (Compatibility of mergers and acquisitions)
Dalam beberapa kasus merger, salah satu indikator kesuksesan proses merger tersebut adalah keberhasilan sosialisasi budaya yang dilakukan.
5.      Pedoman untuk manajer–manajer tingkat atas (Guidance for top level managers)
Budaya yang kuat dapat menjadi acuan bagi keseluruhan anggota organisasi, baik dari top managers dan keseluruhan level karyawan. Budaya yang baik adalah budaya yang mampu menciptakan kesesuaian dan ideal bagi keseluruhan organisasi.
3.      BUDAYA DOMINAN DAN SUB-BUDAYA
Tunggal (2001:24) menegaskan bahwa pengakuan terhadap budaya organisasi yang mempunyai sifat-sifat bersama bukan berarti tidak ada sub-budaya didalam setiap budaya yang ada. Berarti kebanyakan organisasi besar mempunyai suatu budaya yang dominan dan sejumlah sub-budaya.
Suatu budaya dominan (dominant culture) mengungkapkan nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh mayoritas anggota organisasi itu. Bila membicarakan mengenai budaya suatu organisasi, maka akan mengacu pada budaya dominannya. Pandangan makro mengenai budaya inilah yang memberi kepada organisasi itu kepribadian yang jelas terbedakan.
Anak budaya (sub-kultur atau sub-culture) cenderung berkembang dalam organisasi besar untuk mencerminkan masalah, situasi, atau pengalaman bersama yang dihadapi oleh para anggotanya. Sub-budaya ini ditentukan oleh rambu-rambu departemen dan pemisahan geografis. Nilai inti pada hakikatnya dipertahankan tetapi dimodifikasi untuk mencerminkan situasi yang jelas terbedakan dari unit yang terpisah itu.
Schein (1992:256-274) memberikan beberapa alasan yang menjadi dasar penyebab terjadinya pembedaan sub-budaya yang satu dengan sub-budaya yang lainnya atau budaya dominan.
Faktor-faktor tersebut adalah :
1.      Pembedaan fungsional (functional differentiation)
Pembedaan fungsional muncul karena adanya komunitas yang terkait dengan bidang pekerjaannya (occupational) dan keberadaan teknologi sebagai dasar dari fungsi yang bersangkutan. Misalnya seorang karyawan yang mengikuti proses rotasi jabatan, dalam setiap posisi yang ditempatinya, karyawan itu tidak hanya akan mempelajari ketrampilan teknis dari jabatannya, melainkan juga perspektif dan asumsi-asumsi yang mendasari proses dari fungsi tersebut.
2.      Pembedaan letak geografis (geographical differentiation)
Salah satu dasar yang paling kuat bagi terciptanya sub-budaya adalah pembentukkan unit-unit kerja geografis. Beberapa tujuan yang hendak dicapai dari pembentukkan ini adalah dengan mendekati basis pelanggan, lokasi tenaga kerja dan bahan baku yang lebih murah, serta permintaan dari pelanggan lokal. Faktor pembeda geografis ini terjadi suatu fenomena dimana masyarakat lokal mempengaruhi sub-budaya yang terbentuk dalam unit kerja geografis.
3.      Pembedaan akibat produk, pasar, atau teknologi (differentation by product, market, or technology)
Seiring dengan perkembangan organisasi, maka organisasi itu sering membedakan diri berdasarkan teknologi yang digunakan, produk yang diciptakan dan jenis-jenis pelanggan yang dituju.
4.      Divisionalisasi (divisionalzation)
Seiring dengan perkembangan organisasi tersebut dalam mewujudkan pasar yang berbeda, maka organisasi sering melakukan divisionalisasi untuk mendesentralisasikan sebagian besar fungsinya agar lebih terfokus pada produk atau unit pasar. Keuntungan yang diperoleh adalah menyatukan fungsi-fungsi yang mendekatkan dan menciptakan lintas sub-budaya fungsional.
5.      Pembedaan akibat adanya tingkat hirarki (differentation by hierarchical level).
Organisasi yang berhasil dan sedang berkembang cepat atau lambat akan menciptakan tingkat-tingkat hirarki agar efektifitas tentang pengendalian tetap terjaga. Interaksi dan proses berbagi pengalaman dari anggota masing-masing tingkat menciptakan kesempatan munculnya asumsi-asumsi dasar. Budaya yang tercipta pada tiap tingkat hirarki umunya dipengaruhi oleh tugas-tugas yang kerjakan pada tiap tingkat hirarki tersebut.
6.      Merger dan akuisisi (mergers and acquisition)
Masalah mengenai budaya dominan dan sub-budaya muncul ketika dua organisasi atau perusahaan melakukan merger atau akuisisi. Pada proses merger, dua budaya yang berbeda digabungkan tanpa harus memperlakukan salah satunya sebagai budaya yang lebih dominan terhadap yang lain. Pada proses akuisisi, perusahaan yang di akuisisi secara otomatis menjadi sub-budaya. Masalah yang timbul pada proses pencampuran budaya dalam konteks kedua kasus tersebut adalah fakta bahwa unit-unit yang bergabung tidak memiliki kesamaan perjalanan sejarah dan adanya unit-unit yang merasa takut, terancam, marah, maupun mempertahankan diri (deffensive).
7.      Join ventura, aliansi strategis, dan bentuk-bentuk penggabungan lainnya (joint ventures, strategic alliances, and other multiorganizational enterprises)
Masalah mengenai budaya makin tampak ketika organisasi melakukan aktivitas-aktivitas seperti join ventura dan aliansi strategis guna menyiasati ketatnya persaingan karena pada proses tersebut terjadi penyatuan budaya yang berbeda. Faktor penting yang mempengatuhi adalah kebijakan organisasi dalam menangani masalah-masalah yang timbul dikemudian hari.
8.      Kelompok oposisi (structural opposition groups)
Dalam organisasi sering ditemui adanya kelompok-kelompok yang menyatakan dirinya sebagai oposisi dari kelompok lain dan dengan sengaja melakukan aktivitas budaya-kontra (counter-cultural), namun tetap menghormati keberadaan budaya dominan. Contoh yang paling umum adalah keberadaan serikat pekerja yang menjadi oposisi bagi manajemen. Sub-budaya yang berorientasi pada sifat oposisi
 (opposition-oriented) juga bisa muncul dari filosofi manajemen yang mendorong timbulnya persaingan internal antara tiap anggota atau kelompok dalam suatu organisasi.
4.  PENDAPAT-PENDAPAT MENGENAI PENELITIAN
Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi keinginan banyak orang untuk mempelajari budaya organisasi. Schein (1992:2-14) menerangkan empat alasan pokok yang mendorong orang memahami budaya organisasi, yaitu:
1.      Analisis budaya menerangkan dinamika sub-budaya dalam organisasi (cultur analysis illuminates sub-cultural dynamics within organization). Konsep budaya menjadi relevan bagi analisis tingkat organisasional dan menambah pengertian mengenai apa yang terjadi dalam organisasi ketika sub-sub budaya berbeda dan kelompok-kelompok yang ada harus bekerja bersama. Masalah-masalah yang muncul sering diterjemahkan sebagai kegagalan komunikasi atau kelemahan tim kerja. Kini pemahaman itu diperjelas menjadi kegagalan dari komunikasi antar budaya.
2.      Analisis budaya merupakan hal yang penting untuk mengetahui teknologi baru yang mempengaruhi organisasi (cultur analysis is necessary if we are to understand how new technologies influence and are influenced by organizations). Teknologi baru umumnya merupakan refleksi dari budaya yang terkait dengan pekerjaan yang terbentuk disekeliling konsep-konsep ilmiah atau industri yang baru dan peralatan-peralatannya. Konsep baru ini akan menjadi bagian dalam organisasi dan bagian luar organisasi seperti para pemasok dan akademis.
3.      Analisis budaya penting bagi manajemen organisasi yang melampaui batas-batas negara dan budaya (cultural analysis is necessary for management across national and etnic boundaries). Konsep budaya menjadi relevan untuk menganalisis segi antar negara dan lintas etnis dalam bentuk joint venture, aliansi strategis, merger dan akuisisi. Masalah yang kerap timbul adalah kesalahpengertian budaya yang justru tidak pernah atau tidak sempat didiskusikan. Kegagalan dari proses-proses join ventura dan lain-lain dijelaskan dengan kegagalan untuk pengertian sejauh mana kesalahpengertian budaya terjadi.
4.      Proses pembelanjaan, pengembangan dan perencanaan dalam organisasi tidak dapat dimengerti tanpa memperhatikan budaya sebagai sumber utama perlawanan terhadap Perubahan (organizational learning, development, and planned change cannot be understood without considering culture as a primary source of resistance to change). Perlawanan terhadap proses pembelajaran dan perubahan merupakan fenomena umum yang sering dibicarakan namun jarang bisa dimengerti. Sebagian besar perubahan dalam organisasi melibatkan perubahan budaya dan bahkan perubahan pada sub-budaya. Jika Manajemen mengerti kesulitan apa yang dihadapi orang-orang pada tingkat sub-budaya ketika mereka harus mengubah sebagian dari asumsi-asumsi mendasar, nilai-nilai dan perilaku, maka manajemen akan lebih simpati pada resistensi mereka dan akan lebih realistis dalam mengelola perubahan.

BAB III Pengembangan, Pemberdayaan SDM & Pemberdayaan Pelatihan

1.    Pentingnya Pengembangan

Pengembangan karyawan (sumber daya manusia), baik baru maupun lama perlu dilakukan secara terencana dan berkesinambungan. Oleh karenanya perlu ditetapkan lebih dahulu program pengembangan karyawan.
Pengembangan karyawan ini dirasakan makin penting keberadaannya karena tuntutan pekerjaan dan jabatan sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin ketatnya persaingan di antara perusahaan sejenis.
Pemimpin perusahaan pada dasarnya menyadari bahwa karyawan baru, pada umumnya hanya mempunyai pengetahuan teoritis dari bangku sekolah, oleh karenanya perlu dikembangkan kemampuan nyata untuk dapat mengerjakan tugasnya. Demikian pula bagi karyawan lama senantiasa diperlukan latihan karena tuntutan tugas baru baik dalam rangka menghadapi transfer maupun promosi.
Program pengembangan karyawan hendaknya disusun secara cermat dan di dasarkan kepada metode ilmiah serta berpedoman keterampilan yang dibutuhkan perusahaan baik saat ini maupun masa yang akan datang.
Latihan sebagai salah satu bentuk pengembangan karyawan merupakan suatu proses yang berjalan terus menerus. Masalah baru, prosedur baru, peralatan baru, pengetahan dan jabatan baru selalu timbul dalam organisasi yang dinamis. Untuk menghadapi perubahan tersebut diperlukan instruksi, bimbingan kepada para pekerja. Munculnya  kondisi baru tersebut mendorong manajemen untuk terus menerus memperhatikan dan menyusun program pengembangan secara berkesinambungan.
Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, teoretis, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/jabatan melalui pendidikan dan latihan. Pendidikan sendiri berhubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan secara menyeluruh. Sedangkan latihan adalah suatu usaha peningkatan pengetahuan dan keahlian seorang karyawan untuk mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.
Menurut Jan Bella seperti yang dikutip Hasibuan (1997) menyatakan bahwa : ”pendidikan dan latihan sama dengan pengembangan yaitu merupakan proses peningkatan keterampilan kerja baik teknis maupun manajerial.” Pendidikan berorientasi pada teori, dilakukan dalam kelas, berlangsung lama dan biasanya menjawab why. Latihan berorientasi pada praktek dilakukan di lapangan berlangsung singkat dan biasanya menjawab how.
Seringkali istilah pengembangan diartikan sama dengan istilah pendidikan untuk kalangan industri. Hal ini tidaklah salah, memang pengembangan itu sendiri mencakup pendidikan dan latihan. Karena bagaimanapun juga pengembangan karyawan menyangkut peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas.

JENIS-JENIS PENELITIAN

             Salah satu karakteristik ilmu pengetahuan adalah selalu mengalami perkembangan. Salah satu cara untuk membuat perkembangan ilmu pengetahuan adalah dengan melakukan penelitian. Terbayangkah di kepala Anda berapa banyak hasil penelitian yang sudah dilakukan? Untuk mempermudah seseorang menemukan atau mencari hasil penelitian, dibuatlah pengelompokan-pengelompokan. Dengan adanya pengelompokan ini, muncul jenis-jenis penelitian. Jadi jenis-jenis penelitian hanya sebuah upaya untuk mengklasifikasi penelitian yang sudah ada yang bertujuan untuk memudahkan bagi kita.
Ada banyak klasifikasi yang dibuat oleh berbagai kalangan. Dalam buku ini kita akan menggunakan empat klasifikasi, yaitu klasifikasi berdasar manfaat penelitian, klasifikasi berdasar tujuan penelitian, klasifikasi berdasar dimensi waktu, serta klasifikasi berdasar teknik pengumpulan data. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengklasifikasian ini bisa berpengaruh pada keseluruhan proses penelitian yang akan dilakukan, seperti adanya :
1.      perbedaan penyusunan rancangan penelitian;
2.      perbedaan instrumen penelitian yang digunakan;
3.      perbedaan subjek penelitian;
4.      perbedaan teknik analisis data.
A.    Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Manfaat Penelitian
Apa manfaat yang bisa diambil dari penelitian yang sudah dilakukan? Jawaban atas pertanyaan ini memunculkan dua jenis enelitian, yaitu penelitian murni dan penelitian terapan.
1.      Penelitian Murni
Penelitian murni merupakan penelitian yang manfaatnya dirasakan untuk waktu yang lama. Lamanya manfaat ini lebih karena penelitian ini biasanya dilakukan karena kebutuhan peneliti sendiri. Penelitian murni juga mencakup penelitian-penelitian yang dilakukan dalam kerangka akademis.
Contoh yang paling nyata adalah penelitian untuk skripsi, tesis, atau disertasi. Karena penelitian murni lebih banyak digunakan di lingkungan akademik, penelitian tersebut memiliki karakteristik yaitu penggunaan konsep-konsep yang abstrak. Penelitian murni biasanya dilakukan dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan. Umumnya hasil penelitian murni memberikan dasar untuk pengetahuan dan pemahaman yang dapat dijadikan sumber metode, teori dan gagasan yang dapat diaplikasikan pada penelitian selanjutnya. Karena penelitian murni lebih banyak ditujukan bagi pemenuhan keinginan atau kebutuhan peneliti, umumnya peneliti memiliki kebebasan untuk menentukan permasalahan apa yang akan ia teliti. Fokus peneliti ada pada logika dan rancangan peneliti yang dibuat oleh peneliti sendiri.

PENDEKATAN PENELITIAN KUANTITATIF

A.    Asumsi Dasar Pendekatan Kuantitatif
Dalam penelitian ilmu sosial, setidaknya kita mengenal dua pendekatan yang memengaruhi proses penelitian, mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan. Neuman menambahkan satu pendekatan lagi, yakni pendekatan ciritical. Setiap pendekatan memiliki asumsi dasar yang berbeda. Asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif bertolak belakang dengan asumsi dasar yang dikembangkan di dalam pendekatan kualitatif. Asumsi dasar inilah yang memengaruhi pada perbedaan dari cara pandang peneliti terhadap sebuah fenomena dan juga proses penelitian secara keseluruhan. Dalam buku ini, kita akan membahas mengenai empat asumsi dasar yang ada dalam ilmu sosial.
Sebelum kita membahas asumsi dasar dari penelitian kuantitatif, kita perlu memiliki kesepakatan terlebih dahulu tentang pemakaian konsep “kuantitatif”. Setidaknya ada tiga penggunaan konsep ini di dalam penelitian, yaitu pertama, kita bicara mengenai pendekatan kuantitatif. Ada beberapa kalangan yang mengatakan bahwa pendekatan sama dengan paradigma, bahkan sama dengan perspektif. Dalam buku ini, kita sedikit membedakan antara paradigma dan pendekatan (sekalipun asumsi dasar yang digunakan sedikit banyak sama). Paradigma dikembangkan di dalam lingkup bidang studi, seperti misalnya di dalam sosiologi terdapat tiga paradigma, yaitu paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, serta paradigma perilaku sosial. Lain lagi dalam antropologi. Paradigma yang berkembang adalah paradigma idiografis dan paradigma perilaku. Paradigma bisa diartikan sebagai sudut pandang dalam melihat suatu fenomena atau gejala sosial. Pendekatan dikembangkan di dalam lingkup ilmu sosial sehingga di dalam sosiologi antropologi dan ilmu sosial lainnya dikenal pula pendekatan yang sama, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Sekali lagi, karena asumsi dasar yang digunakan kurang lebih sama, memang sulit untuk membedakan antara pendekatan dan paradigma.
Kembali pada pemakaian tentang kuantitatif. Selain pendekatan kuantitatif, kita juga menggunakan kuantitatif dalam konteks metode kuantitatif, dan data kuantitatif. Ada satu hal yang perlu ditekankan di sini karena sering kali terjadi salah kaprah yang berkembang sehingga pemakaian konsep “pendekatan kuantitatif”, “metode kuantitatif”, serta “data kuantitatif” disamaratakan. Hal ini mengakibatkan dalam penerapan penelitian pengertian konsep-konsep tadi menjadi salah. Ambil saja contoh adanya anggapan bahwa dalam sebuah penelitian kita bisa menggunakan kedua pendekatan yang ada sekaliagus. Pertanyaan adalah bagaimana mungkin dengan asumsi dasar yang bertolak belakang, kemudian diterapkan dalam sebuah penelitian? Nanti akan disajikan perbedaan antara asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif dan kualitatif agat pembaca menyadari bahwa asumsi dasar dari masing-masing pendekatan bertolak belakang. Kondisi yang memungkinkan adalah dalam satu penelitian kita hanya bisa menggunakan satu pendekatan, baik pendekatan kuantitatif maupun pendekatan kualitatif. Namun, dalam satu penelitian yang sama, kita bisa menerapkan kedua metode yang ada, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif, dan akhirnya kita menghasilkan data kuantitatif dan data kualitatif. Tentunya jika kita menggunakan pendekatan kuantitatif, penekanan utamanya adalah metode kuantitatif. Metode kualitatif kita gunakan untuk melengkapi metode kuantitatif yang kita gunakan. Demikian pula dalam pendekatan kuantitatif. Karena kita menggunakan metode kuantitatif sebagai metode utama, data yang akan kita hasilkan adalah data kuantitatif sebagai data utama, sedangkan data kualitatif hanya digunakan sebagai data penunjang. Dengan demikian, jika ada anggapan bahwa dalam satu penelitian kita bisa menggunakan kedua pendekatan yang ada, pendapat itu salah atau bisa jadi yang dimaksud orang tersebut dengan pendekatan adalah metode.
Setelah kita mengenal perbedaan antara paradigma dan pendekatan, serta penggunaan “kuantitatif” dalam penelitian, kita akan membahas mengenai asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif. Adapun asumsi dasar pendekatan kualitatif hanya akan disajikan dalam bentuk skema, hanya untuk memperlihatkan perbedaan antara asumsi dasar dalam pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.







 


Gambar 2.1 Hubungan Pendekatan, Metode, dan Data
1.      Asumsi Dasar Ontologi (Hakikat Dasar Gejala Sosial)
Gejala sosial dikatakan sebagai sesuatu gejala yang real, yang dapat diungkap dengan menggunakan indra manusia. Karena suatu gejala adalah real, bisa terjadi kesepakatan di antara individu-individu yang ada di sekitarnya, dan suatu ketiga gejala tersebut menjadi sebuah fenomena yang sifatnya universal dan diakui oleh banyak orang. Gejala sosial yang real ini dapat dianalogikan dengan permainan anak-anak. Suatu ketiga ada anak yang sedang bermain dengan teman-temannya. Mereka sedang bermain perang-perangan. Anak yang satu segera membuat sebuah lingkaran yang besar di atas pasir, kemudian ia mengatakan bahwa area di dalam lingkaran yang ia buat merupakan area kedaulatan negaranya. Kemudian, ia mengambil empat buah batu besar dan meletakkan di sisi pinggir bagian dalam lingkaran dan mengatakan bahwa keempat batu tersebut adalah benteng pertahanan. Kemudian, ia mengambil tas sekolahnya dan meletakkan di tengah lingkaran dan mengatakan pada teman-temannya bahwa tas tersebut adalah pusat pemerintahan negara yang ia buat. Dengan demikian, konsep negara yang dibat oleh anak tersebut dengan kesepakatan teman-temannya adalah sebuah lingkaran besar yang didalamnya terdapat empat batu besar sebagai benteng pertahanan, serta ditengah lingkaran terdapat tas sekolah sebagai pusat pemerintahan. Fenomena sosial (negara, benteng pertahanan serta pusat pemerintahan) adalah sesuatu yang real, nyata sehingga jika dalam permainan ada seseorang anak yang berencana menyerang negara tersebut, ia tahu bahwa ia harus menghancurkan keempat batu yang ada karena keempat batu itu merupakan benteng pertahanan. Fenomena ini menjadi suatu yang universal karena ada pengakuan dan kesepakatan di antara anak-anak yang bermain mengenai negara yang sudah dibuat. Analogi permainan anak-anak ini ingin menggambarkan bahwa suatu gejala suatu fenomena adalah nyata.
Ilustrasi 2.1.
2.      Asumsi Dasar Epistemologi (Hakikat Dasar Ilmu Pengetahuan)
Suatu gejala adalah nyata. Karena gejala itu sifatnya nyata, gejala yang ada bisa dipelajari. Gejala yang ada bisa ditangkap dengan menggunakan indra. Dengan demikian, kita bisa membuat perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Kembali ke permainan anak-anak tadi, kita bisa katakan kalau lingkaran yang di dalamnya terdapat tas sekolah dan empat batu besar sebagai negara si A, sehingga ketika anak yang lain membuat sebuah kotak dan didalamnya diletakkan empat sepatu dan sebuah bola, kotak yang dibuat itu bukan negara si A, tetapi negara si B. Dengan demikian secara epistemologis, kita bisa membuat tipologi-tipologi untuk membedakan satu gejala dengan gejala yang lain.
Ilustrasi 2.2.



 


Epistemologi mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut :
  1. Keterkaitan antara Ilmu dengan Nilai
Individu adalah seorang yang bebas nilai. Bebas nilai dapat diartikan bahwa individu tidak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada di antara orang-orang yang sedang diteliti. Bebas nilai karena individu telah memiliki seperangkat nilai yang ia gunakan untuk meneliti orang-orang tersebut. Nilai yang ia bawa dan gunakan adalah nilai-nilai yang sifatnya universal. Dengan sifat yang universal itu, individu berasumsi bahwa orang-orang yang akan ia teliti memiliki nilai-nilai yang sama dengan nilai-nilai yang ia bawa. Dalam praktiknya di lapangan digambarkan sebagai berikut. Kalau ada kesepakatan bahwa setiap orang dilarang merokok di dalam angkutan umum, nilai-nilai kesepakatan itu akan diterapkan kepada semua orang. Peneliti bisa mengabaikan seseorang memiliki penilaian bahwa ia adalah manusia bebas sehingga boleh memutuskan apakah ia akan merokok atau tidak. Karena nilai yang digunakan adalah nilai yang universal, peneliti dapat menyatakan bahwa orang yang memiliki penilaian yang berbeda tentang boleh tidaknya merokok di angkutan umum sebagai orang yang salah. Dengan bebas nilainya individu (dalam hal ini peneliti), peneliti dapat lebih objektif.
  1. Keterkaitan antara Ilmu dengan Akal Sehat
Segala sesuatu yang diperoleh dengan menggunakan cara yang ilmiah atau yang kita kenal sebagai ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan akal sehat belaka. Dengan demikian, pada saatnya nanti ilmu pengetahuan akan menggantikan akal sehat.
  1. Metodologi
Logika pemikiran ilmiah yang mencakup proses pembentukan ide dan gagasan diberlakukan secara ketat dengan memakai prinsip nomotetik dan menggunakan pola deduktif. Prinsip nomotetik menggarisbawahi bahwa dalam melihat keterkaitan antara suatu gejala sosial dengan gejala sosial yang lain, difokuskan kepada beberapa faktor atau gejala yang krusial saja, dan mengesampingkan gejala atau faktor sosial yang lalu. Dengan prinsip tersebut, tak jarang dalam penelitian kita hanya akan melihat hubungan antara satu akibat dengan dua atau tiga sebab saja. Dua atau tiga sebab ini yang diyakini atau diduga sebagai faktor atau gejala yang krusial. Pola deduktif menunjukkan bahwa pemikiran yang dikembangkan di dalam penelitian didasarkan pada pola yang umum atau universal untuk kemudian mengarah pada pola yang lebih sempit dan spesifik.
3.      Hakikat Dasar Manusia
Dengan adanya pola yang bersifat universal, pada gilirannya manusia sesungguhnya diatur dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Kalau kembali pada analogi tentang permainan anak-anak tadi, karena sudah ada kesepakatan tentang adanya batas kedaulatan negara, seorang anak tidak bisa begitu saja masuk ke dalam lingkaran yang ada tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada anak yang sudah membuat lingkaran tersebut. Anak tersebut tidak bisa begitu saja masuk ke dalam kotak yang dibuat oleh anak yang lain. Di sini terlihat bahwa manusia pada akhirnya harus tunduk pada pola-pola yang sifatnya universal tadi. Manusia dipengaruhi oleh lingkungan. Manusia bukan merupakan individu yang bebas. Dalam kenyataan hidup kita sehari-hari, kita pasti mengalami bahwa dalam setiap tindakan, perkataan, serta perilaku kita diatur oleh sebuah hukum yang universal. Kita tidak bisa melepaskan pakaian di tengah keramaian. Kita tidak bisa datang jam 10 ke sekolah kalau sudah ditetapkan jam masuk sekolah adalah jam tujuh, dan masih banyak belenggu yang mengikat kita. Kita adalah manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan.
4.      Aksiologi (Tujuan Dilakukannya sebuah Penelitian)
Tujuan dilakukannya sebuah penelitian adalah dalam upaya untuk menemukan hukum universal dan mencoba menjelaskan mengapa suatu gejala atau fenomena terjadi, dengan mengaitkan antara gejala atau fenomena yang satu dengan gejala atau fenomena yang lain.
Dari penjelasan yang ada tentang asumsi dasar pendekatan kuantitatif, terlihat bahwa antara asumsi yang satu dengan asumsi yang lain saling berkaitan. Dengan demikian, jika suatu gejala memiliki asumsi dasar bahwa suatu gejala adalah real, secara epistemologi gejala tersebut bisa dipelajari, secara aksiologi, penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mencari penjelasan-penjelasan antara gejala. Secara skematis, kita bisa lihat perbedaan antara asumsi dasar dalam pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.
Tabel 2.1.  Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dDilihat dari Berbagai Asmsi yang Ada
Asumsi Dasar
Kuantitatif
Kualitatif
Ontologi (hakikat dasar gejala sosial)
Hakikat dasar manusia
Epistemologi (hakikat dasar ilmu pengetahuan)
-        Kaitan ilmu dengan nilai
-        Kaitan ilmu dengan akal sehat
-        Metodologi
Aksiologi
-        Real
-        Berpola
-        Rasional
-        Diatur oleh hukum universal
-        Bebas nilai
-        Ojektif
-        Ilmu adalah cara terbaik memperoleh pengetahuan
-        Deduktif
-        Nomotetik
Menemukan hukum universal, mencari penjelasan
-        Dibuat melalui definisi
-        Hasil makna dan interpretasi
-        Memberi makna
-        Bebas
-        Tidak bebas nilai
-        Subjektif
-        Akal sehat adalah teori orang awam yang perlu dipahami
-        Induktif
-        Idiografik
Menemukan arti pemahaman
B.     Contoh Penggunaan Pendekatan dalam Kehidupan Sehari-hari
1.      Bentrokan antara Aparat Keamanan dan Mahasiswa yang Berdemonstrasi
Akhir-akhir ini frekuensi bentrokan antara aparat keamanan dan mahasiswa menjadi semakin sering. Mahasiswa melakukan aksi demo di depan gedung DPR. Sementara mereka berusaha untuk memasuki areal gedung, mereka juga mengatakan bahwa pemerintahan yang sekarang adalah pemerintah yang berpihak pada penguasa dan bukan pada rakyat. Ketika mahasiswa diminta untuk membubarkan diri, mereka justru berteriaka dan memaksa masuk. Bentrokan pun tak terelakkan lagi. Banyak dari kalangan mahasiswa dan juga aparat keamanan yang terluka. Ketika ditanya mengapa benturan tersebut sampai terjadi, mahasiswa justru menanyakan sesungguhnya gedung DPR milik siapa, milik rakyat atau milik penguasa. Jika milik rakyat, mengapa mereka yang juga rakyat tidak boleh masuk ke gedung tersebut? Sementara di dalam pagar, aparat keamanan membuat pagar betis dan tetap melarang mahasiswa masuk. Ketika ditanya tentang terjadinya bentrokan hingga ada yang terluka, aparat dengan sigap menjawab bahwa segal ayang dilakukan oleh aparat keamanan sudah sesuai prosedur. Bagaimana kita melihat fenomena terjadinya bentrokan antara aparat keamanan dan mahasiswa? Kita bisa menjawabnya dengan memakai kerangka pendekatan penelitian. Masih ingat tentang pernyataan bahwa dalam sebuah penelitian kita hanya bisa menggunakan satu pendekatan saja? Apa akibatnya jika dalam sebuah penelitian kita menggunakan dua pendekatan yang berbeda? Jawaban atas pertanyaan tersebut ada di dalam kasus tentang bentrokan antara aparat keamanan dan mahasiswa. Aparat keamanan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hal yang paling jelas adalah jawaban aparat keamanan yang mengatakan segala yang dilakukan “sudah sesuai prosedur”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa aparat memiliki nilai yang universal, yang sebuah peraturan. Mereka bukan lagi individu yang bebas, namun tunduk pada pola yang umum (hukum). Sebaliknya mahasiswa menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan bertemunya antara pendekatan kuantitatif dengan pendekatan kualitatif dalam satu fenomena, yang terjadi adalah benturan-benturan. Demikian pula dalam penelitian yang sesungguhnya. Jika peneliti akan menggunakan kedua pendekatan yang ada dalam satu penelitian, yang terjadi adalah benturan-benturan pemikiran sehingga penelitian itu tidak akan pernah bisa dilakukan.
2.      Perilaku Remaja
Sujono adalah seorang mahasiswa yang berasal dari Solo dan sudah lama tinggal di Jakarta. Keberadaannya di Jakarta dalam rangka melanjutkan kuliah. Sudah lama juga ia berpacaran dengan Sujanti, mahasiswi yang juga berasal dari Solo dan juga sudah lama tinggal di Jakarta. Selama di Jakarta, mereka berpacaran dengan gaya yang bebas. Mereka tidak malu untuk saling berpelukan di tengah keramaian. Mereka tidak malu untuk saling bergandengan tangan, menyusuri mal yang satu ke mal yang lain. Bahkan mereka tidak malu lagi untuk berciuman di depan umum. Pada saat liburan semester, mereka berencana pulang ke Solo bersama. Mereka memilih untuk naik kereta api ke Solo. Sepanjang perjalanan, mereka berperilaku seperti biasa yang mereka lakukan selama berpacaran. Orang-orang yang berada di sekitar tempat duduk mereka pun menjadi risih melihat perilaku mereka. Ketika kereta sampai di Solo, perilaku yang ditampilkan oleh Sujono dan Sujanti langsung berubah. Mereka tidak lagi jalan berangkulan, dan bahkan mereka menjaga jarak di antara tubuh mereka. Tidak lagi bergandengan tangan apalagi berciuman di depan umum. Bisa dikatakan mereka mengubah perilaku mereka 180 derajat. Bagaimana kita bisa mencermati kejadian ini dengan memakai pendekatan kuantitatif. Mereka dipengaruhi oleh lingkungan. Di Jakarta mereka bisa berperilaku secara bebas, namun ketika mereka berada di Solo, yang konon masyarakatnya masih memegang sopan santun yang tinggi, mereka tidak berani lagi berperilaku seperti di Jakarta. Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa mereka adalah individu yang tunduk pada pola yang bersifat universal, yaitu aturan masyarakat Solo.

Lika-Liku Korupsi Waktu

02 Juni 2010 
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ. الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ. وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

Allah berfirman, yang artinya, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs. Al-Muthaffifin: 1-3)
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Muthaffifin adalah orang yang meminta hak mereka secara utuh namun mengurangi hak orang lain. Artinya, mereka mengumpulkan dua sifat, yaitu 'syuhh' dan bakhil. Syuhh adalah menuntut hak secara penuh tanpa ada tawar-menawar, sedangkan bakhil adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, yang dalam hal ini adalah menyempurnakan takaran dan timbangan.

Contoh yang Allah berikan dalam ayat ini terkait dengan takaran dan timbangan adalah sekadar contoh, sehingga bisa dianalogkan dengan hal-hal yang serupa. Sehingga setiap orang yang menuntut haknya secara utuh namun tidak mau menunaikan kewajiban dengan baik termasuk dalam ayat di atas.

Semisal seorang suami yang menuntut agar istrinya memberikan hak-hak suami secara utuh dan dengan penuh perhatian, namun giliran hak istri, dia tidak mau menunaikan dan memperhatikannya.

Demikian pula, kita jumpai sebagian orangtua yang menginginkan agar anak-anaknya memberikan hak orangtua dengan utuh, yaitu berbakti kepada orangtuanya dengan harta, badan, dan semua bentuk bakti. Akan tetapi, mereka menyia-nyiakan hak anak mereka dan  mereka tidak mau melaksanakan kewajiban sebagai orangtua. Kami katakana bahwa orangtua ini adalah muthaffif, sebagaimana suami model pertama juga muthaffif.” (Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 93--95)

Demikian pula, seorang pekerja atau pegawai yang menuntut agar mendapatkan gaji yang utuh, namun datang dan perginya sangat tidak tepat waktu juga termasuk muthaffif yang Allah tegur dengan teguran keras dalam ayat di atas.
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنَعَ وَهَاتِ
Dari al-Mughirah bin Syu’bah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan mana’a wahat.” (Hr. Bukhari no. 2408, dan Muslim no 4580)

Yang dimaksud “mana’a wahat” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, atau meminta hal yang bukan haknya.

Seorang pegawai yang tidak menunaikan kewajibannya dengan baik, semisal dalam hal disiplin waktu, namun menuntut kompensasi yang lebih tinggi daripada pekerjaan yang dilakukan, dikhawatirkan termasuk dalam hadits di atas.

Syekh Abdul Muhsin al-Abbad, pakar hadits dari kota Madinah saat ini, mengatakan, “Setiap pegawai dan pekerja wajib menggunakan jam kerjanya hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang menjadi kewajibannya. Tidak diperbolehkan menggunakan jam kerja untuk urusan lain selain pekerjaan yang menjadi kewajibannya.

Tidak boleh memanfaatkan seluruh jam kerja atau sebagian jam kerja untuk kepentingan pribadi atau kepentingan orang lain, jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Sesungguhnya, jam kerja tidak lagi menjadi milik pegawai atau pekerja tersebut, namun milik pekerjaan dengan kompensasi gaji yang didapatkan dari pekerjaan tersebut.” (Kaifa Yu`addi al-Muwazhzhaf  al-Amanah, hlm. 4)

Al Mu`ammar bin Ali bin al Mu`ammar al-Baghdadi pernah menasihati Nizhamul Mulk, seorang menteri di masanya di Mesjid Jami’ al-Mahdi. Di antara nasihat beliau, “Telah dimaklumi bersama, wahai pemuka Islam, bahwa setiap orang memiliki pilihan tentang apa yang diinginkan dan apa yang akan dilakukan. Jika mau maka dilanjutkan, dan jika tidak mau maka berhenti di tengah jalan.

Adapun orang, dia memiliki jabatan tertentu, sehingga dia tidak memiliki hak pilihan dalam keinginan dan tindakan yang akan dilakukannya, karena orang yang memiliki jabatan di pemerintahan itu, pada hakikatnya adalah buruh yang telah menjual waktunya dengan kompensasi gaji yang diterima.

Oleh karena itu, waktu siang hari (jam kerja) tidak bisa dipergunakan seenaknya sendiri. Dia tidak boleh melakukan shalat sunnah dan beri’tikaf sunnah (pada waktu jam kerja, pent) sehingga dia tidak memikirkan dan mengatur hal-hal yang menjadi kewajibannya. Hal itu dikarenakan, amal-amal tersebut bernilai sunnah sedangkan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dikerjakan.

Engkau, wahai pemuka Islam, meski engkau berstatus sebagai menteri namun hakikatnya engkau adalah pelayan masyarakat. Negara telah menggajimu dengan gaji yang besar supaya engkau menggantikan tugas negara di dunia dan di akhirat.

Di dunia untuk mewujudkan kebaikan bagi kaum muslimin, sedangkan di akhirat untuk menjawab pertanyaan Allah. Engkau akan berdiri di hadapan Allah, lalu Allah akan berkata kepadamu, “Telah kuberikan kekuasaan kepadamu untuk mengatur negeri dan rakyat, lalu apa saja yang telah kau lakukan untuk mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan keadilan?” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, karya Ibnu Rajab: 1/43)

Sungguh sangat menyedihkan, banyak kaum muslimin yang melalaikan kewajiban ini. Seorang pegawai atau pekerja dengan santainya seakan tidak merasa berdosa pulang sebelum jam kerja berakhir dan terlambat tiba di tempat kerja, tanpa alasan yang jelas. Demikian pula, seorang guru namun jarang masuk kelas untuk menunaikan kewajibannya sebagai pengajar.

Penulis: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, S.S.
Artikel: PengusahaMuslim.Com